Saturday, August 22, 2009

Marhaban Yaa Ramadhan : Izinkanku Menemanimu ke Gerbang Syawal

Alhmadulillah, Segala Puji bagi ALLAH SWT, Tuhan Semesta Alam. Ramadhan telah tiba, dengan segala keberkahan yang ALLAH SWT limpahkan. Dengan segala kerinduan kita menyambutnya. Dengan penuh suka cita kita kembali bersama, dalam senyum yang membahagiakan kita saling berukhuwah. Ramadhan al Mubarak, Bulan yang penuh dengan keberkahan, Berlalulah sya'ban, maka kini Ramadhan menjelang. Tarawih pertama di masjid tercinta, lalu di akhir malam sahur bersama keluarga. inilah keberkahan Ramadhan yang di berikan ALLAH SWT kepada hamba-hambaNYA yang beriman.

Shoum Ramadhan tahun ini haruslah lebih baik dari tahun kemarin. Bangunlah tekad yang kuat dan jadikan Ramadhanmu "The Full Power to Break The Limit". Apa artinya? jadikan Madrasah Ramadhan tempat kita memebangun mental manusia beriman yang menyeluruh. Sehingga batasan-batasan yang selama ini telah terbentuk tanpa sadar yang jelas merugikan diri kita akan segera kita lumat habis. Namun tidak berhenti saat Ramadhan ini saja, tetapi terus berlanjut hingga kita bertemu Ramadhan berikutnya.

"(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur."

Ibarat sekolah, maka Ramadhan adalah Ujian Nasionalnya. Seluruh manusia yang Beriman kepada ALLAH SWT di wajibkan untuk berpuasa, kelulusan Ujian ini hanya ALLAH SWT yang mengetahui dan akan di balas di akhirat nanti.

"Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa" QS. Al Baqarah: 183

"...dan mereka mengatakan: 'Kami dengar dan kami taat'. (Mereka berdoa): 'Ampunilah kami ya Tuhan kami dan kepada Engkaulah tempat kembali'." QS. Al Baqarah: 284




Berlalulah kegelapan ketika fajar hari mulai benderang di ufuk nan tinggi. Tinggalah embun dengan segala kesejukannya. Perlahan mentari muncul dan menebarkan senyum hangat. Sebuah senyuman indah yang terpancar melalui celah-celah awan lalu menyusuri perbukitan dan menembus hingga sampailah senyuman itu kepada sebuah titik embun di ujung daun. Angin menggoyangkan dedaunan, memberikan kesempatan pada embun untuk segera berlalu dan kembali ke tanah agar segera bisa bergabung dengan air. Namun embun memilih untuk bertahan hingga secercah cahaya mentari mebias bersamanya lalu munculah pelangi yang begitu indah di pandang mata.

Beginilah waktu mengajari kita, bahwa bersama dengan kesulitan pasti ada kemudahan. Beriman dan beramal sholeh, lalu bernasihat dalam kebenaran dan kesabaran. Bukan merasa yang palng benar dan mengejar kesempurnaan. Karena ALLAH SWT Yang Maha Sempurna. Belajar dan terus belajar, menuntut ilmu di sekolah kehidupan. Berbekal pemahaman yang menyeluruh, keikhlasan dalam beramal dan hanya mengharap ridha ALLAH SWT semata. Lalu berjihadlah dengan sebenar-benar jihad. Jadikan Ramadhan ini Momen Perubahan. Lalu bergabunglah dengan barisan yang akan terus menemani Ramadhan menuju gerbang Syawal. melewati hari-hari indah bersama Ramadhan yang begitu mempesona jiwa-jiwa yang Istiqamah di jalan-NYA.

Waallahua'lam bishawwab

Monday, August 17, 2009

Terorisme : Antara Mujahid dan Media Fasiq

JW Marriot, dan Ritz Carlton, dua hotel mewah yang ditengarai milik jaringan bisnis yahudi di Jakarta di bom, Jum'at, 17 Juli 2009. Hal tersebut adalah fakta sebagaimana adanya, namun Jama'ah Islam sebagai pelakunya adalah opini. Belum lagi stigma yang di bangun media bahwa ciri-ciri pelaku terorisme ini memiliki ciri yang sama dengan para jama'ah Islam di berbagai harakah yang tersebar di seluruh nusantara. Sebagai seorang muslim kita perlu mengklarifikasi fitnah ini. Jangan sampai kita mencurigai saudara kita, sementara para kufar dan munafik tetap berkontribusi untuk melenyapkan akidah Islam dari bumi Islam Indonesia baik secara terselubung maupun yang secara terang dan jelas.

Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu. (QS. Al Hujuurat : 6)

Mari kita lihat Penjelasan Tafsir QS. Al Hujurat : 6 oleh Oleh: Dr. Attabiq Luthfi, MA

Ayat ini –seperti yang dikemukakan oleh Ibnu Katsir- termasuk ayat yang agung karena mengandung sebuah pelajaran yang penting agar umat tidak mudah terpancing, atau mudah menerima begitu saja berita yang tidak jelas sumbernya, atau berita yang jelas sumbernya tetapi sumber itu dikenal sebagai media penyebar berita palsu, isu murahan atau berita yang menebar fitnah. Apalagi perintah Allah ini berada di dalam surah Al-Hujurat, surah yang sarat dengan pesan etika, moralitas dan prinsip-prinsip mu’amalah sehingga Sayyid Quthb mengkategorikannya sebagai surah yang sangat agung lagi padat (surat jalilah dhakhmah), karena memang komitmen seorang muslim dengan adab dan etika agama dalam kehidupannya menunjukkan kualitas akalnya (adabul abdi unwanu aqlihi).

Peringatan dan pesan Allah dalam ayat ini tentu bukan tanpa sebab atau peristiwa yang melatarbelakangi. Terdapat beberapa riwayat tentang sebab turun ayat ini yang pada kesimpulannya turun karena peristiwa berita bohong yang harus diteliti kebenarannya dari seorang Al-Walid bin Uqbah bin Abi Mu’ith tatkala ia diutus oleh Rasulullah untuk mengambil dana zakat dari Suku Bani Al-Musththaliq yang dipimpin waktu itu oleh Al-Harits bin Dhirar seperti dalam riwayat Imam Ahmad. Al-Walid malah menyampaikan laporan kepada Rasulullah bahwa mereka enggan membayar zakat, bahkan berniat membunuhnya, padahal ia tidak pernah sampai ke perkampungan Bani Musththaliq. Kontan Rasulullah murka dengan berita tersebut dan mengutus Khalid untuk mengklarifikasi kebenarannya, sehingga turunlah ayat ini mengingatkan bahaya berita palsu yang coba disebarkan oleh orang fasik yang hampir berakibat terjadinya permusuhan antar sesama umat Islam saat itu. Yang menjadi catatan disini bahwa peristiwa ini justru terjadi di zaman Rasulullah yang masih sangat kental dan dominan dengan nilai-nilai kebaikan dan kejujuran. Lantas bagaimana dengan zaman sekarang yang semakin sukar mencari sosok yang jujur dan senantiasa beri’tikad baik dalam setiap berita dan informasi yang disampaikan?.

Secara bahasa, kata fasiq dan naba’ yang menjadi kata kunci dalam ayat di atas disebut dalam bentuk nakirah (indifinitive) sehingga menunjukkan seseorang yang dikenal dengan kefasikannya serta menunjukkan segala bentuk berita dan informasi secara umum; berita yang besar atau kecil, yang terkait dengan masalah pribadi atau sosial, apalagi berita yang besar yang melibatkan segolongan kaum atau komunitas tertentu yang berdampak sosial yang buruk.

Sayyid Thanthawi mengemukakan analisa redaksional bahwa kata “in” yang berarti “jika” dalam ayat “jika datang kepadamu orang fasik membawa berita” menunjukkan suatu keraguan sehingga secara prinsip seorang mu’min semestinya bersikap ragu dan berhati-hati terlebih dahulu terhadap segala informasi dari seorang yang fasik untuk kemudian melakukan pengecekan akan kebenaran berita tersebut sehingga tidak menerima berita itu begitu saja atas dasar kebodohan (jahalah) yang akan berujung kepada kerugian dan penyesalan. Maka berdasarkan acuan ini, sebagian ulama hadits melarang dan tidak menerima berita dari seseorang yang majhul (tidak diketahui kepribadiannya) karena kemungkinan fasiknya sangat jelas.

Berdasarkan hukumnya, As-Sa’di membagikan sumber (media) berita kepada tiga klasifikasi:
Pertama, berita dari seorang yang jujur yang secara hukum harus diterima.
Kedua, berita dari seorang pendusta yang harus ditolak.
Ketiga, berita dari seorang yang fasik yang membutuhkan klarifikasi, cek dan ricek akan kebenarannya.

Disini, yang harus diwaspadai adalah berita dari seorang yang fasik, seorang yang masih suka melakukan kemaksiatan, tidak komit dengan nilai-nilai Islam dan cenderung mengabaikan aturannya. Lantas bagaimana jika sumber berita itu datang dari media yang cenderung memusuhi Islam dan ingin menyebar benih permusuhan dan perpecahan di tengah umat, tentu lebih prioritas untuk mendapatkan kewaspadaan dan kehati-hatian.

Selain sikap waspada dan tidak mudah percaya begitu saja terhadap sebuah informasi yang datang dari seorang fasik, Allah juga mengingatkan agar tidak menyebarkan berita yang tidak jelas sumbernya tersebut sebelum jelas kedudukannya. Allah swt berfirman,

“Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir”. (Qaaf: 18).

Sehingga sikap yang terbaik dari seorang mukmin seperti yang pernah dicontohkan oleh para sahabat yang dipelihara oleh Allah saat tersebarnya isu yang mencemarkan nama baik Aisyah ra adalah mereka tetap berbaik sangka terhadap sesama mukmin dan senantiasa berwaspada terhadap orang yang fasik, apalagi terhadap musuh Allah yang jelas memang menginginkan perpecahan dan perselisihan di tubuh umat Islam.

“Dan mengapa kamu tidak berkata, di waktu mendengar berita bohong itu: “Sekali-kali tidaklah pantas bagi kita memperkatakan ini. Maha Suci Engkau (Ya Tuhan kami), ini adalah dusta yang besar.” (An-Nur: 16).

Dalam sebuah riwayat dari Qatadah disebutkan, “At-Tabayyun minaLlah wal ‘ajalatu Minasy Syaithan”, sikap tabayun merupakan perintah Allah, sementara sikap terburu-buru merupakan arahan syaitan.

Semoga kita mampu menangkap pesan Allah yang cukup agung ini agar terhindar dari penyesalan dan kerugian. Allahu a’lam (Dakwatuna.com)



Bertabayyun, carilah informasi dari sumber yang terpercaya. Kita sebagai muslim tidak selayaknya melahap berita-berita yang dilontarkan kaum fasiq yang sengaja ingin mendiskreditkan Islam. Memang saat ini kaum kafir dan munafik sudah mulai cemas karena melihat gerakan Jama'ah Islam yang begitu progresif. Seakan-akan jumlah kaum muslimin saat ini berlipat-lipat jumlahnya. Sehingga mereka melancarkan fitnah-fitnah terhadap Dien ini.

Sesungguhnya telah ada tanda bagi kamu pada dua golongan yang telah bertemu (bertempur). Segolongan berperang di jalan Allah dan (segolongan) yang lain kafir yang dengan mata kepala melihat (seakan-akan) orang-orang muslimin dua kali jumlah mereka. Allah menguatkan dengan bantuan-Nya siapa yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai mata hati.(QS. Ali Imran:13)

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang, di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya. (QS. Ali Imran : 118)

Wallahua'lam bishawwab

Saturday, August 15, 2009

Spanyol, Mutiara Islam yang Hilang



Ramadhan 92 H, atau bertepatan dengan tahun 711 M, Thariq bin Ziyad dan pasukannya merapat di pantai Spanyol, dengan membawa misi untuk menyebarkan dakwah Islam. Sayang, Raja Roderick dan pasukannya menolak, dan bahkan mengobarkan peperangan. Peperangan itu sebenarnya bermula dari pertikaian antara sesama Kristen Spanyol. Raja Roderick yang berkuasa saat itu, memaksakan keyakinan Trinitas Kristen yang dianutnya kepada umat Nasrani Aria.

Berbeda dengan para pendukung Roderick yang meyakini Nabi Isa sebagai Yesus, yaitu Allah Bapak, Anak Tuhan, dan Ruh Kudus, kaum Nasrani Aria meyakini Nabi Isa semata sebagai utusan Allah. Pemaksaan keyakinan Trinitas oleh Raja Roderick ini menimbulkan penindasan di kalangan Nasrani Aria. Lantas, pimpinan mereka meminta bantuan kepada Pasukan Thariq bin Ziyad yang memang sudah merapat di Spanyol dalam misi dakwah dari khalifah.

Panglima Thariq menerima permintaan pemimpin Nasrani Aria. Itu sebabnya, dalam sebuah pidatonya sesaat sebelum melakukan pertempuran dengan pasukan Raja Roderick, Thariq bin Ziyad memerintahkan pembakaran kapal-kapal yang telah membawa seluruh awak pasukannya dari Afrika, kecuali beberapa pasukan kecil yang diminta pulang untuk meminta bantuan kepada khalifah.

Pidato `kontroversial' itu karuan aja membuat pasukannya keheranan. Namun beliau mengatakan, "Di belakang kita ada lautan luas, di hadapan kita pasukan musuh. Jadi, kita datang ke sini tidak untuk kembali. Kita hanya punya dua pilihan; menaklukkan negeri ini dan menetap di sini serta mengembangkan Islam, atau kita semua binasa (syahid)".

Peristiwa di tahun 711 M itu mengawali masa-masa Islam di Spanyol. Pasukan
Thariq sebenarnya bukan misi pertama dari kalangan Islam yang menginjakkan kaki di Spanyol. Sebelumnya, Gubernur Musa Ibnu Nushair telah mengirimkan pasukan yang dikomandani Tharif bin Malik. Tharif sukses. Kesuksesan itu mendorong Musa mengirim Thariq. Saat itu, seluruh wilayah Islam masih menyatu di bawah kepemimpinan Khalifah al-Walid dari Bani Umayah.

Thariq mencatat sukses. Ia mengalahkan pasukan Raja Roderick di Bakkah. Setelah itu ia maju untuk merebut kota-kota seperti Cordova, Granada dan Toledo yang saat itu menjadi ibukota kerajaan Gothik. Ketika merebut Toledo, Thariq diperkuat dengan 5.000 orang tentara tambahan yang dikirim Musa Ibnu Nushair.



Thariq kembali sukses. Bukit-bukit di pantai tempat pendaratannya lalu dinamai Jabal Thariq, yang kemudian dikenal dengan sebutan Gibraltar. Musa bahkan ikut menyeberang untuk memimpin sendiri pasukannya. Ia merebut wilayah Seville dan mengalahkan Penguasa Gothic, Theodomir. Musa dan Thariq lalu bahu-membahu menguasai seluruh wilayah Spanyol selatan itu.

Pada 755 Masehi, Abdurrahman tiba di Spanyol. Abdurrahman ad-Dakhil, demikian orang-orang menjulukinya. Ia membangun Masjid Cordova, dan menjadi penguasa di Andalusia dengan gelar Amir. Keturunannya melanjutkan kekuasaan itu sampai 912 Masehi. Kalangan Kristen sempat mengobarkan perlawanan "untuk mencari kematian" (martyrdom). Namun penguasa Bani Umayah di Andalusia ini mampu mengatasi tantangan tersebut.

Sekadar kamu tahu, bahwa peperangan dalam Islam adalah untuk menghidupkan manusia bukan untuk memusnahkan. Itu sebabnya, ketika kaum muslimin menang perang dan menguasai wilayah tidak bertujuan menjajahnya. Berbeda dengan ideologi Kapitalisme yang memang tujuan mereka berperang adalah untuk menguasai wilayah dan menjajahnya (baca: menguras seluruh potensi wilayah itu untuk kepentingan bangsanya).

Sejarawan Barat beraliran konservatif, W. Montgomery Watt dalam bukunya Sejarah Islam di Spanyol, mencoba meluruskan persepsi keliru para orientalis Barat yang menilai umat Islam sebagai yang suka berperang. Menurutnya, "Mereka (para orientalis) umumnya mengalami mispersepsi dalam memahami jihad umat Islam. Seolah-olah seorang muslim hanya memberi dua tawaran bagi musuhnya, yaitu antara Islam dan pedang. Padahal, bagi pemeluk agama lain, termasuk ahli kitab, mereka bisa saja tidak masuk Islam meski tetap dilindungi oleh suatu pemerintahan Islam." Hmm.. perlu dicatet tuh.

Itulah yang terjadi sepanjang perjalanan sejarah masuknya Islam ke Spanyol. Islam, tak hanya masuk dengan damai, namun dengan cepat menyebar dan membangun peradaban tinggi hingga Spanyol mencapai puncak kejayaannya. Kota-kota terkemuka Spanyol seperti Andalusia dan Cordova, menjadi center of excellent peradaban dunia. Keren nggak?

Berkembangnya iptek Montgomery menganalisa tentang rahasia kemajuan peradaban Islam, ia mengatakan bahwa Islam nggak mengenal pemisahan yang kaku antara ilmu pengetahuan, etika, dan ajaran agama. Satu dengan yang lain, dijalankan dalam satu tarikan nafas. Pengamalan syariat Islam, sama pentingnya dan memiliki prioritas yang sama dengan riset-riset ilmiah.

Nggak mengherankan tentunya jika para ulama terkemuka seperti Ibnu Rusyd (1126-1198) misalnya, yang terkenal di Barat dengan nama Averous, diakui pula sebagai ilmuwan yang handal di bidangnya. Ibnu Rusyd adalah filosof, dokter, dan ahli fikih Andalusia. Bukunya yang terpenting dalam bidang kedokteran ialah al-Kulliyat yang berisi kajian ilmiah pertama kali mengenai tugas jaringan-jaringan dalam kelopak mata. Bukunya dalam bidang fikih adalah Bidayatul Mujtahid.

Spanyol juga punya az-Zahrawi yang dikenal sebagai orang pertama yang memperkenalkan teknik pembedahan manusia. Az-Zahrawi yang lahir dekat Cordova pada 936 Masehi, dikenal pula sebagai penyusun ensiklopedi pembedahan yang karya ilmiahnya itu dijadikan referensi dasar bedah kedokteran selama ratusan tahun. Sejumlah universitas, termasuk di Barat, menjadikannya acuan.

Kontribusi ilmuwan Islam di bidang astronomi nggak kalah seru. Adalah az-Zarkalli, astronom muslim kelahiran Cordova yang pertama kali memperkenalkan astrolobe. Yaitu suatu instrumen yang digunakan untuk mengukur jarak sebuah bintang dari horison bumi. Penemuan ini menjadi revolusioner karena sangat membantu navigasi laut. Dengan begitu, transportasi pelayaran berkembang pesatselepas penemuan astrolobe.

Jadi jelas, ilmu pengetahuan, bukanlah bagian yang terpisahkan dari syariat Islam dan etika moral. Menurut Montgomery, nggak ada yang dapat melukiskan relasi antara ilmu pengetahuan, etika, dan agama daripada kata-kata filosofis Ibnu Rusyd: "Filsafat, tak berarti apa-apa jika tak bisa menghubungkan ilmu pengetahuan, agama dan etika dalam suatu relasi harmonis." Ibnu Rusyd pernah mengatakan, bahwa ilmu pengetahuan dibangun di atas fakta-fakta dan logika hingga sampe kepada suatu penjelasan rasional. Etika, merefleksikan manfaat setiap riset ilmiah, sehingga harus bisa memberi nilai tambah bagi kehidupan. Sedangkan firman Allah, yakni al-Quran, menjadi satu-satunya pembimbing kita untuk sampai pada tujuan hakiki dari hidup ini.

Itu sebabnya barangkali, W.E. Hocking berkomentar, "Oleh karena itu, saya merasa benar dalam penegasan saya, bahwa al-Quran mengandung banyak prinsip yang dibutuhkan untuk pertumbuhannya sendiri. Sesunguhnya dapat dikatakan, bahwa hingga pertengahan abad ke tigabelas, Islamlah pembawa segala apa yang tumbuh yang dapat dibanggakan oleh dunia Barat." (The Spirit of World Politics, 1932,hlm. 461)

Menurut Montgomery, cukup beralasan jika kita menyatakan bahwa peradaban Eropa tidak dibangun oleh proses regenerasi mereka sendiri. Tanpa dukungan peradaban Islam yang menjadi `dinamo'nya, Barat bukanlah apa-apa. Wajar jika Barat berhutang budi pada Islam.

STUDIA Edisi 284/Tahun ke-7 (13 Maret 2006)


(Bersambung...)

Wednesday, August 5, 2009

Berpegang Teguhlah Pada Tali Agama ALLAH dan Jangan Bercerai Berai


Mari sejenak kita lepaskan segala resah dan gelisah. Teduhkanlah hatimu dengan banyak beristighfar dan beruzlah. Mengapa harus beruzlah? Karena dari keterasinganlah akan kita temui keteguhan. Keteguhan inilah yang membuat para salafushalih mampu menorehkan tinta emas diatas lembar sejarah dunia.

Lihatlah kegemilangan peradaban dunia yang dibangun diatas hukum Allah SWT. Generasi awal ummat ini telah membuktikannya, bahwa dibutuhkan keteguhan dan konsistensi, istiqomah dan tidak mudah menyerah. Ummat ISLAM pernah berjaya dan pasti akan kembali berjaya atas izin ALLAH SWT. Islam itu tinggi dan tidak ada yang lebih tinggi daripada Islam. Dan Dien yang diridhai ALLAH SWT hanyalah Dienul Islam.

“Hanya kepada Allah-lah sujud (patuh) segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan kemauan sendiri ataupun terpaksa (dan sujud pula) bayang-bayangnya di waktu pagi dan petang hari.” QS. 13:14

“...Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. Maka barang siapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” QS. 5:3

Maka berdirilah bersama barisan para pembela Islam di seantero negeri di dunia. Sampaikanlah yang haq dan tolaklah kebathilan dengan cara yang ma'ruf. Islam mengajarkan bahwa memaafkan lebih mulia walau hukum qishas itu diperbolehkan. Namun bila kebenaran ini telah diinjak-injak, maka kewajiban kita semua untuk bangkit dan berjihad membela Islam.

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” QS. 16:125

“Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia.” QS. 41:34

Untuk seluruh saudaraku dimanapun kalian berada, izinkanlah diri yang lemah ini dan dengan dengan segala kerendahan hati untuk menyampaikan salam terindah untuk kalian semua. Assalamualaykum wa Rahmatullahi wa Barakatuh. Maka seiring mentari dhuha yang terus memberikan kehangatan di pagi yang indah bersama lirih kicau burung yang senantiasa mengagungkan ALLAH SWT, bangkitlah saudarakau, panggilan hijrah dari sebaik-baik langkah telah memanggil kita. Tak kau dengarkah rintihan Al Quds yang menantikan kehadiran kita. Maka tidak ada alasan untuk berbalik karena takut. Tujuan kita adalah ALLAH SWT, maka janganlah bersedih dan berputus asa dari Rahmat ALLAH SWT. Bersabarlah, ALLAH SWT beserta kita.

“Dan orang-orang yang sabar karena mencari keridhaan Tuhannya, mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka, secara sembunyi atau terang-terangan serta menolak kejahatan dengan kebaikan; orang-orang itulah yang mendapat tempat kesudahan (yang baik), (yaitu) surga 'Adn yang mereka masuk ke dalamnya bersama-sama dengan orang-orang yang saleh dari bapak-bapaknya, isteri-isterinya dan anak cucunya, sedang malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu; (sambil mengucapkan): "Salamun 'alaikum bima shabartum". Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu.” QS. 13:22-24

“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: 'Tuhan kami ialah Allah' kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: 'Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu'.“QS. 41:30

Wallahua'lam bishawwab

Tuesday, August 4, 2009

Seuntai Kata Maaf

Ba’da Tahmid wash Shalawat.

Dalam lantunan sendu sebuah senandung, mendera bathin tak elakan getir rasa ketakutan akan arti sebuah kehilangan. Apa yang kurasa dan yang kucita, ternyata tak berpaut dalam nuansa.

Nuansa indah dalam resonansi ukhuwah, tak terasa kini waktu jua yang memisahkan. Apakah diri ini terlalu naif untuk sekadar berkata ‘sampai jumpa sahabat, aku sangat menyayangi kalian’. Bergetar hebat, ada kesedihan dalam dada yang membungkam lisan seribu bahasa. Hingga suatu saat dalam lamunan senja dihari tua, teringat kembali akan kenangan indah bersama sahabat. Terasa hangat pipi ini oleh air mata cinta, yang merindukan hari-hari indah bersama kalian.

Wahai sahabat, Apa kesalahanku yang membuat kalian begitu jauh untuk kuraih ? Apa kesalahanku yang membuat kalian begitu dingin dan berpaling ? apa kesalahanku sahabat ?
Kalian begitu baik, dalam dukaku kalian hadir untuk menghibur. Dalam sepiku kalian hadir untuk meramaikan. Dalam sakitku kalian hadir untuk mengobati. Dalam khilafku kalian hadir untuk sebuah nasehat berharga. Tapi apa yang aku lakukan, disaat kalian membutuhkan kehadiranku, aku justru sibuk dengan berbagai macam urusanku.
Maafkan aku sahabat, Apakah seuntai kata maaf, dapat menghapus semua kesalahanku ? jika tidak, maka apalagi yang bisa kuberikan kepada kalian wahai sahabatku.

“ ... Ya Tuhan kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau tanamkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Ya Tuhan kami, sungguh Engkau Maha Penyantun, maha Penyayang.”(QS. Al Hasyr:10)

Wahai sahabat, Kalian adalah mentari yang bersinar nan cerah di taman hatiku. Sedamai pasir pantai yang putih bersama deru ombak yang memberikan keindahan dalam partitur melodi, sebening embun pagi, seharum kasturi, seindah pelangi...segalanya bermula disini. Citarasa saat aku dan kau..memukau !!!